Demokrasi Webarian dan Visum Istri Saya

Salam,

MadaKemarin, sekali lagi, saya harus pergi ke Bürgeramt dlm rangka mengurus visa istri saya. keluar dari gedung bürgeramt tersebut, tiba2 saya teringat sebuah nama. tentu saja bukan nama istri saya, tapi sebuah nama jerman: Max Weber, seorang sosiolog jerman yg tentu saja tidak asing lagi terdengar di telinga kita (bukan Karl Marx loh! meski namanya hampir sama, tapi pemikiran keduanya berbeda sama sekali).

trus, apa hubungan weber, birokrasi dan istri saya? tentu saja hubungannya sangat erat. pak weber inilah yg punya rumusan ttg makhluk yg bernama birokrasi. dan sekarang, saya sedang ngurus visa istri saya ke birokrasi jerman. so, ketemulah pak weber ini dengan birokrasi di jerman, saya dan istri saya (ketemu lewat pemikiran saja krn beliau skrng memang sudah almarhum).

nah, selama beberapa minggu mengurus visa istri inilah, saya jadi lebih memahami apa itu birokrasi weberian. sebelumnya saya hanya dengar2 sayup saja. belum merasakan sendiri sepenuhnya.

kembali ke pak weber, menurut beliau, ada beberapa ciri birokrasi itu yg membedakannya dengan makhluk yg lainnya. yg pertama, birokrasi sangat taat pada prosedur. semua proses hrslah berjalan sesuai prosedur yg ada. mrk tdk mau sama sekali mensiasati  prosedur yg terkesan rumit, apalagi sampai melanggarnya. kalau prosedurnya hrs abmeldung dari kota tempat kursus, dan anmeldung ke kota tempat studi, ya hrs dilakukan spt itu. kl prosedurnya hrs segra anmedlung, tapi ternyata tidak, ya pasti kita juga yg kena dampaknya. kl standar living costnya sekian, ya tidak boleh kurang. pendeknya, prosedur tidak sekedar prosdur krn benar2 dijalankan.

ciri utama yg kedua adalah impersonal. birokrasi melayani semua kliennya dg perasaan yg sama. walaupun kita adalah penerima beasiswa DAAD, wajah kita cakep atau bahkan melas, agama kita sama dg dia, jenis kelamin kita beda (atau sama), kulit kita menurut mereka juga sangat bagus, ya tetap saja mereka akan melayani kita sama dengan mereka melayani yg lain. jangan mentang2 kita penerima beasiswa DAAD, trus kita akan menerima perlakuan berbeda yg menguntungkan

sedang ciri yg ketiga adalah strukturalis. dalam birokrasi pasti ada hub atasan dan bawahan, bahkan di jerman ini yg masyarakatnya sudah sangat egaliter. saya jadi ingat kata pegawai yg melayani saya kemarin. kata dia, bukan dia yg memutuskan visa isti saya bisa jadi atau tidak, ‘aber mein Chef’. jadi, mau kita paksa kayak apapun dia, kalau dia tidak berwenang, ya dia tidak bisa apa2.

ciri selanjutnya adalah pembagian kerja dan spesialisasi. kalau kita diminta ketemu orang itu di ruang ini, ya kita harus seperti itu, tidak bisa kemudian kita ketemu yg lain dan kemudian dia akan membantu masalah kita. so, tidak mengherankan jika antrean banyak sekali di satu pegawai, tapi sedikit sekali di pegawai yg lain.

yg kelima ada meritokrasi, dalam artian, promosi dalam jabatan birokrasi didasarkan pada prestasi dan kecakapan. bukan didasarkan pada kedekatan, pertemanan, persaudaraan, atau yg laen2. so, seorang Chef disini pastilah orang yg pinter dan cakap dalam bidangnya.

nah, kemudian muncul pertanyaan dalam benak saya, mana yg lebih baek? birokrasi jerman atau birokrasi indonesia? sambil makan döner, saya renung2kan terus jawaban atas pertanyaan itu. kebetulan sebelum ke jerman, saya punya pengalaman mengurus beberapa dokumen di jakarta.

memang sekilas, dalam suasana kita kangen banget sm keluarga spt ini, kita mengharapkan birokrasi ala indonesia bisa diterapkan disini. bayangkan saja betapa enaknya. bagaimana tidak enak? la wong di indonesia prosedur cuma sebatas prosedur, uang menjadi bahasa umum, kedekatan sangat berperan, bahkan tukang fotocopy pun bisa punya akses ke pembuat kebijakan. pendek kata, proses ngurus visa istri, pasti tidak serepot dan selama di jerman ini.

cuma, saya masih tidak yakin dg jawaban itu. apakah memang benar seperti itu? menjelang döner saya habis, saya kemudian menyimpulkan sendiri bhw hal itu tentu saja benar, asal kita punya duit banyak, kita punya saudara atau kenalan disana, dll. kalo tdk punya apa2, ya bisa jadi istri baru nyusul setahun lagi atau bahkan ketika menjelang kita selesai studi.

dlm perjalanan pulang ke rumah, saya kemudian mengambil kesimpulan bahwa cara paling mudah agar visa istri kita segera selesai adalah pahami sistem birokrasi disini, taati prosedurnya (jangan pernah berusaha menabrak krn pasti hasilnya jelek), penuhi semua syaratnya, terus berusaha dan tetap bersemangat, dan yg tidak kalah penting adalah, berusaha agar selalu tersenyum. mungkin inilah tips2 sederhana utk menyiasati birokrasi ala weberian di jerman ini.

mudah2an kita semua bisa segera berkumpul kembali dengan keluarga.

salam,

mada